CITA KU SAHABAT SURGA KU. . .
 |
| alumni SMP MUHAMAMMADIYAH 8 SURAKARTA |
Teringat masa masa itu
Kau ingatkan aku keindahan itu
kau ingatkan aku kepada pencipta kita
Citaku sahabat surgaku
Kau selalu ada saat saat ku suka dan duka
Kau selalu ada saat ku butuhkan mu
Walaupun kutak pernah membuatmu bahagia
Kadang tak ku indahkan nasihat mu
Sahabat surgaku kini tlah tiada
Penyesalan yang kini tersisa
Sahabat surga ku kini hanya do'a
Yang ku persembahkan untuk mu
Citaku sahabat surgaku
Kepada Alloh ku panjatkan do'a ku
Semoga kita semoga kita semoga kita
Dipertemukan di surganya..
fourteens:Sahabat surgaku
Bukankah Tuhan itu apabila menghendaki maka
segala sesuatunya akan terwujud? Bukankah apabila Tuhan berkata kun
(jadilah) fayakun (maka jadilah)? Lantas mengapa langit dan bumi
diciptakan dalam waktu enam atau tujuh hari? Bukankah hal ini
berseberangan dengan kudrat dan kekuasaan Tuhan?
Kekuasaan tidak terbatas dan apa yang
didefinisikan tentang kudrat dan kekuasaan Tuhan bermakna bahwa
apabila Dia menghendaki melakukan sesuatu maka Dia akan melakukannya
dan apabila enggan melakukan sesuatu maka Dia tidak akan
mengerjakannya. Tiada satu pun yang keluar dan berada di luar wilayah
kekuasaan Allah Swt di alam semesta ini.
Adapun bahwa alam semesta diciptakan dalam
waktu enam hari atau dengan ungkapan yang lebih tepat dalam enam
tingkatan pada hakikatnya tidak berseberangan dengan kekuasaan dan
kudrat Allah Swt; karena dengan melewati enam tingkatan ini bagi
penciptaan alam semesta tidak bermakna bahwa Allah Swt tidak berkuasa
menciptakannya dalam satu waktu; artinya penciptaan seketika alam
semesta oleh Tuhan bukanlah suatu hal yang mustahil. Mengingat bahwa
mekanisme yang berlaku di alam semesta adalah mekanisme sebab akibat
dan berada di bawah aturan hukum kausalitas dan Tuhan tidak ingin
melakukan sesuatu kecuali dengan sebab-sebabnya, maka, dengan
beberapa alasan yang tidak kita ketahui secara pasti, alam semesta
diciptakan dalam waktu enam hari. Namun yang pasti penciptaan gradual
ini sepenuhnya disebabkan oleh tipologi yang dimiliki alam semesta
bukan karena kekuasaan dan kudrat Allah Swt.
“
Huwalladzi khalaqa al-samawat wa al-ardh
fi sittati ayyamin.”
“
Dialah yang menciptakan langit dan bumi
dalam waktu enam hari.” (Qs. Hud [11]:7)
Pertama-tama yang
dimaksud dengan hari bukanlah satuan waktu dua puluh jam yang kita
lalui sehari-hari. Karena pada waktu itu bumi dan matahari belum lagi
diciptakan sehingga bumi mengelilingi dirinya di hadapan cahaya
matahari sehingga kita menyebut rotasi tersebut sebagai sehari. Hari
dalam ayat yang dimaksud merupakan ungkapan tentang masa dan
tingkatan dan penggalan waktu dari zaman. Apa yang dijelaskan
ayat-ayat al-Qur’an dan riwayat bahwa bumi diciptakan dalam enam
tingkatan dan terkait dengan hal-hal detilnya pada setiap tingkatan
dan bagaimana proses terjadinya tidak ada yang dapat kita pahami dari
firman Allah Swt. Yang paling maksimal yang dapat kita petik dari
ayat-ayat al-Qur’an adalah pertama bahwa penciptan langit dan bumi
tidaklah berbentuk dan seperti kondisi yang sekarang ini kita
saksikan. Keberadaannya tidak bersifat mendadak dan muncul dari
ketiadaan, melainkan diciptakan dari sesuatu yang lain dimana sesuatu
tersebut sebelumnya telah ada dan hal itu adalah sebuah materi yang
mirip bagian-bagian dan bertumpuk-tumpuk satu dengan yang lain
kemudian Allah Swt membagi-bagi materi padat ini, dan bagian-bagian
tersebut dipisahkan dari yang lain. Dari satu bagiannya, dalam dua
penggalan waktu bumi dibuat dan kemudian menciptakan langit yang kala
itu masih berupa asap (dukhan),bagian-bagian tersebut juga
dipisah-pisahkan dan pada dua penggalan waktu kemudian berbentuk
tujuh petala langit.
Yang lainnya bahwa
seluruh entitas dan makhluk hidup yang kita saksikan diciptakan dari
air, karena itu materi air (tentu saja air ini bukan air yang kita
sehari-hari konsumsi) merupakan materi kehidupan setiap makhluk
hidup. Dengan penjelasan di atas menjadi jelas ayat yang menjadi
obyek bahasan, oleh itu, al-Qur’an menyatakan, “Huwalladzi
khalaqa al-samawat wa al-ardh fi sittati ayyamin” (Dialah yang
menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari) yang dimaksud
dengan menciptakan langit dan bumi pada ayat ini adalah mengumpulkan
bagian-bagian kemudian memisahkannya dengan materi-materi lain yang
mirip satu dengan yang lain kemudian memadatkannya satu dengan yang
lain.
Hingga kini makna penciptaan alam semesta yang
terjadi selama enam hari menjadi jelas. Sekarang tiba gilirannya kita
membedah makna kun (jadilah) fayakun (maka jadilah ia)
bahwa pada hakikatnya apa sih makna huruf ini? Al-Qur’an
menyatakan, “Innama amruhu idza arada syaian an yaqula lahu kun
fayakun.” (Sesungguhnya urusannya-Nya apabila Dia menghendaki
sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah ia,”
Qs. Yasin [36]:82).
Ayat mulia ini merupakan salah satu ayat
unggul al-Qur’an yang mendeskripsikan kalimat pengadaan dan
penjadian dan menyatakan, “Allah Swt dalam menjadikan dan
mengadakan segala sesuatu yang kejadiannya dikehendaki, tidak
membutuhkan kepada sesuatu yang lain kecuali kepada Zat-Nya sendiri,
bukan bahwa sebab tersebut secara mandiri menjadikan sesuatu juga
bukan membantu Tuhan dalam penjadiannya, atau menyingkirkan
penghalang terealisirnya kehendak Tuhan.
Yang dimaksud dengan
redaksi “amr” pada ayat yang menjadi obyek bahasan adalah
“sya’n” (urusan, kedudukan) artinya ayat tersebut ingin
menandaskan, “Urusan (kedudukan) Tuhan tatkala menghendaki
penciptaan satu makhluk dari seluruh makhluk adalah demikian, bukan
bermaksud amr (perintah) sebagai lawan nahi (larangan).
Tatkala Tuhan ingin menciptakan satu entitas (makhluk) maka Dia
menggunakan kalimat “amr.” Karena itu, makna kalimat “idzâ
aradâ” adalah bahwa tatkala segala sesuatu berada dalam obyek
kehendak Tuhan, maka sya’n (kedudukan atau urusan) Tuhan
adalah berkata kepada sesuatu tersebut untuk menjadi (kun) dan
maka jadilah ia (fayakun). Namun yang menjadi titik tekan di
sini bukan lafaz “kun” melainkan kehendak (iradah) Tuhan.
Demikian juga dalam kondisi ini obyek bicara Tuhan juga bukanlah
obyek yang memiliki indra pendengaran dan mendengarkan pembicaraan
dengan dua telinganya kemudian mengada, lantaran apabila obyek bicara
sudah mewujud (sebelumnya) maka tidak perlu lagi diwujudkan.
Karena itu, ayat yang menjadi obyek bahasan merupakan sebuah firman
yang mengandung analogi dan karena Zat Allah Swt apabila mengendaki
wujudnya segala sesuatu maka tanpa ada jeda dan selisih akan segera
mewujud.
Dari satu sisi juga, apa yang dianugerahkan
dari sisi Allah Swt, tidak memerlukan waktu dan jeda, juga tidak
menerima adanya perubahan dan pergantian, demikian juga tidak
bersifat gradual. Apa pun yang kita saksikan secara gradual,
memerlukan waktu dan jeda pada seluruh entitas dan makhluk sejatinya
bersumber dari entitas itu sendiri dan bukan berasal dari sisi Allah
Swt.
Shafwan bin Yahya berkata, aku berkata kepada
Hadhrat Abi al-Hasan As: Tolong Anda jelaskan tentang kehendak Tuhan
dan penciptaan-Nya. Beliau berkata, “Kehendak pada kita makhluk
bermakna keinginan batin dan intrinsik yang sebagai ikutannya
muncullah perbuatan dari kita. Namun kehendak Allah Swt bermakna
pengadaan dan penjadian perbuatan bukan selainnya, karena Allah
Swt tidak perlu berpikir dan merenung sebelumnya. Dia tidak seperti
kita yang memerlukan keputusan sebelum setiap pekerjaan dilakukan dan
kemudian memikirkan bagaimana merealisasikannya. Sifat seperti ini
tidak terdapat pada Allah Swt dan merupakan salah satu tipologi
makhluk.
Oleh itu, kehendak
Tuhan adalah perbuatan itu sendiri bukan yang lain. Dia berkata
kepada perbuatan tersebut, “Jadilah (Kun) maka perbuatan itu
akan menjadi (fayakun). Adapun kita berkata, “Berkata
kepadanya” (an yaqula) bukan perkataan dengan ekspresi dan
bahasa, bukan juga keputusan dan produk pikiran, sebagaimana Dia
tidak memiliki kualitas, perbuatan-Nya juga tidak memiliki kualitas.
Karena itu, apabila
kita berkata bahwa Allah Swt menciptakan alam semesta dalam enam hari
maka pertama-tama hal itu tidak bermakna bahwa penciptaan tersebut
secara gradual terjadi dari sisi Allah Swt dan perbuatan-Nya adalah
bersifat gradual dan sebagai kesimpulannya karena Allah Swt tidak
mampu menciptakannya dalam satu waktu maka kekuasaannya terbatas dan
untuk menciptakan Dia memerlukan terlewatinya waktu. Sifat gradual
ini sejatinya bersumber dari makhluk yang dalam ini adalah alam
semesta dan bukan bersumber dari Allah Swt. Karena sebagaimana yang
telah dijelaskan kapan saja Allah Swt menghendaki wujudnya sesuatu
maka segera ia akan mewujud (fayakun). Apa yang Anda nyatakan
bahwa hal ini berasal dari sisi Tuhan, sama sekali tidak bermasalah.
Benar bahwa Tuhan mampu menciptakan alam semesta dalam satu waktu
namun mengingat alam materi mengikut mekanisme sebab akibat dan
tunduk di bawah aturan hukum kausalitas dan Allah Swt enggan
melakukan sesuatu kecuali dengan sebab-sebabnya atas alasan itulah
berdasarkan kemasalahatan-kemasalahatan yang juga kita tidak ketahui
secara persis alam semesta diciptakan dalam enam tingkatan, boleh
jadi pada setiap tingkatan bergantung pada tingkatan-tingkatan
sebelumnya atau dalil-dalil lainnya... namun apa yang penting di sini
adalah Tuhan mahakuasa untuk menciptakan segala sesuatu yang memiliki
kemungkinan eksistensial untuk mewujud.
Sumber : http://quran.al-shia.org/id/lib/98.html